BelieverBelieberInnerCircle

Super Kawaii Cute Cat Kaoani

Live Love Life

Do you know you're an angel? Who forgot how to fly?~ Justin Bieber-Fall

Keep Calm and Listen to Music

I think a part of me will always be with you~

Live to Write

I write. Although I write nonsense, at least I've written a writing.

Home

I always wonder why I always want to go home everytime I far away from it yet it is just still the same.

Reading is the sweetest escape

A book A Day Keep Reality Away

Selasa, 03 Maret 2020

Mount Batur Rainy Trekking (Why Not?)

Sunday, February 9, 2020, my cousins and I went trekking at Mount Batur. Ini adalah pendakian kedua ku di Gunung Batur. 2014 lalu aku sama 3 teman lainnya pernah mendaki juga, but kali ini ceritanya agak berbeda. Pendakian kali ini ditemani rintik hujan dan kabut yang super dingin. So, we have planned this actvity since many many years ago. And suddenly we talked about it the day before our trip, then one of cousin called me at night asked me to go to Batur Mountain Tomorrow early morning at 1 am. And stupid me just said yes, cz I love unplanned trip and I love adventuring. Sebelum tidur aku liat ke atas, langit terlihat gelap, tak berbintang dan aku mulai khawatir. Aku cek smartphone dan searched ramalan cuaca buat besok, dan dari pagi sampai malam cuaca mendung dengan rintik hujan. 
Tidur hanya 3 jam, jam 1 pagi aku dibangunin alarm, aku langsung chat sepupuku buat mastiin apakah jadi mendaki atau tidak. Dari dalam kamar terdengar suara petir sekilas. Sepupu ku balas chat dan bilang 'jadi'. Ayah sepupuku ini kerja nganterin turis-turis mendaki dan paman udah berangkat which means hujan pun sepertinya tak masalah. Aku pun tak mau memikirkan apa-apa, let's just do this and see what will happen later.


Jam 2 pagi kita berangkat menuju lereng gunung Batur. Jalanan benar2 sepi, tapi aku tidak merasa takut sama sekali. Sempat berhenti sebentar di warung makan dekat Tirta Empul buat beli air mineral. Tiba-tiba jalanan terlihat basah dan ternyata ada hujan gerimis. Yah... pasrah aja si, udah diperjalanan juga. Waktu mau turun ke lereng gunungnya, kita sempat papasan sama mobil di depan yang juga mau turun ke lereng gunung, tapi kita dahuluin tu mobil. Jalanan masih sepi, tapi di salah satu spot ada beberapa polisi dan pecalang yang berjaga. Ternyata itu adalah petugas karcis buat agent2 yang bawa tamu buat mendaki.
Ini emang pendakian ke-2, tapi aku benar-benar lupa jalan untuk menuju start nya. Sempat bingung juga, dan aku memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan. Dan saat itu sebuah mobil berhenti, dan ternyata itu adalah mobil yang kita lewatin di atas tadi. Bapak-bapak di dalam mobil nanyain kita apakah kita mau ke lokasi start pendakian, dan aku pun bilang iya, dan aku tanya balik, apakah bapaknya juga mau mendaki, dan beliau bilang tidak, rumah beliau ngelewatin lokasinya, jadi kita bisa ngikut di belakang. Wah... aku benar2 bersyukur bisa mendapat bantuan kayak gini. Kemana pun aku pergi, terutama saat jalan-jalan si, pasti ketemu aja orang-orang baik hati.
Akhirnya kita ketemu jalannya. Oww iya, kita harus selalu hati-hati dan bawa kendaraan pelan-pelan ya, karena di sepanjang jalan tu minim pencahayaan. Bahkan bisa dibilang tidak ada lampu di pinggir jalan, sama sekali. Aku sempat nerjang jalan yang bolong, syukur motor ku baik-baik aja. Hujan kembali turun saat kita hampir sampai di tempat parkir. Dan aku pikir, hujan-hujan gini ga bakal ada yang mendaki, eh salah, ada banyak orang yang mendaki dan bahkan udah naik ke atas duluan menerjang hujan. Mungkin untuk gunung Batur, hujan-hujan gini ga terlalu masalah untuk mendaki, ga tau kalau gunung yang lainnya. Paman pun belum sampai di parkiran. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Karena sudah bosan menunggu gerimis hujan yang ga tau kapan bakal berhenti, kita berempat memutuskan untuk memulai perjalanan ditemani gerimis hujan.
So, start mendakinya tu kita melewati sebuah pura. Sempat tersesat juga, kita ngikutin beberapa rombongan, dan ternyata mereka juga ga tau jalan startnya. Mapus. Celingak celinguk kayak orang bego wkwkwk n finally, kita nemuin jalannya setelah nanya ke rombongan yang lagi prepare buat mendaki. Ternyata startnya itu ada di sebelah kiri pura. Disana ada jalan buat naik ke puncak gunung. Jalanan yang aku lewati pada saat pendakian pertama tu beda. Kayak hutan-hutan gitu. Kalau yang ini lebih ke bebatuan, naik terus kayak manjat tebing, tapi ga se ekstrim manjat tebing asli yaa.
Anyway, akhir-akhir ini aku jarang olahraga, jalan kaki jarang, tiba-tiba mendaki benar2 mempengaruhi kekuatanku buat menuju puncak. Mmm... padahal belum sampai di post 1 aku udah capek banget. Pengen rasanya diem di rumah, tidur, selimutan, tapi ga mungkin kan aku turun ke bawah sendirian, I dont wanna be a wet blanket. Aku sama sepupuku istirahat sebentar di post 1, dan maunya si stop sampai disana saja. Tapi setelah di pancing sama kakaknya, akhirnya kita lanjut perjalanan ke puncak, mmm padahal udah nyaman banget duduk di post 1.

Hujan-hujan gini ternyata ada juga yang buat tenda dan camping di Gunung Batur. Hebat emang. Angin berhembus dengan sangat kencang, dan suara anginnya terdengar dengan sangat jelas. That was the first time I heard the sound of the wind which was super loud and a bit scary. Aku udah mikir yang ga jelas, takut kan kalau ada angin topan dsb. Ngeri. Syukurnya kita selamat sampai diatas. Udah kelaperan dan dingin banget. Jadi aku bilang ke sepupu2 ku kalau aku mau beli makan atau minum yang hangat-hangat. So, di puncak tu ada dagangnya kok, aman, but, harganya melambung. Pop mie ukuran besar seduh harganya 20k. Minumannya ada teh dan susu, harganya juga sama 20k pergelas gede. Ya pasti milihnya pop mie. Sudah pasti tidak ada sunrise. Ini pendakin ke-2, dan tetap saja tidak ketemu sunrise. Tapi sempat liat pemandangan dibawah, keren... awan-awan putih juga sempat keliatan, cantik banget. Tapi itu hanya beberapa menit, paling 5 menit kemudian hujan pun turun. Semua orang desak-desakan berteduh di warungnya itu. Gosh... I really wanna stay home at that time. Hujannya ga reda-reda, malas menunggu, kita memutuskan untuk turun aja. Saat turun kita foto2 sebentar, walaupun hujan dan ga ada sunrise, but we still have to capture the memories, right?
Hujan tetap turun, walaupun gerimis, tapi tetap aja bikin jaket basah. Syukur aku pake topi yang cukup tebal, jadi kepala aman, dan jaketnya juga parasut tebal. Perjalanan saat turun lebih cepat dari dugaan, kita bisa lihat pemandangan di bawah dengan cukup jelas. Sesampainya di bawah, aku langsung mesen teh anget. Sepupu ku mau foto2 katanya, tapi aku males, mending diem di warung sambil nge teh. Harga tehnya masih normal di bawah, 5k pergelas besar.
Pulangnya kita mampir sebentar di hutan pinus. Jaraknya cukup jauh ke utara melewati Pura Batur. Dulu sering melewatinya saat berangkat ke Singaraja. Karena aku kangen jalanan itu, makanya aku setuju buat kesana. Padahal maunya si langsung pulang, dingin banget. Hutannya itu ada di pertigaan menuju Singaraja dan Denpasar. Lumayan si, buat foto-foto. Tujuannya kan emang foto-foto which is actually not my style. Tapi tetap aja fotoan wkwkwk


Kita disana ga lama, saat pulang, hujan turun sangat deras. Dan kita juga sempat berhenti buat beli bakso, tapi aku ga ada mood buat makan, jadi beli di bungkus aja. Syukur selamat sampai rumah. N sampai sekarang pun, aku ga nyangka bisa mendaki saat hujan-hujan. Still a good memory.